Apa itu obat tradisional? Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.Obat tradisional dikelompokkan menjadi, jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu adalah sediaan obat bahan alam yg belum  dibuktikan keaamanannya baik dengan uji klinis maupun uji praklinis

Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi.

Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standardisasi. Uji klinis yaitu uji yang dilakukan terhadap manusia, sedangkan OHT baru uji praklinik saja yaitu pada hewan percobaan.
Sekarang kita akan lebih mendalami mengenai Fitofarmaka Indonesia. Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya telah distandardisasi. Singkatnya fitofarmaka ini adalah obat herbal yang sudah dilengkapi dokumen pendukung soal efektivitas dan keamanannya. Proses yang dilalui oleh suatu bahan obat menjadi fitofarmaka cukup panjang, melewati diantaranya uji toksisitas, uji eksperimental pada hewan, serta uji klinik fitofarmaka pada manusia sehat dan manusia dengan penyakit terkait.Di Indonesia, baru terdapat lima jenis tanaman yang termasuk ke dalam kategori fitofarmaka. Menurut  data, sejak tahun 2003 Badan Pengawas Obat dan Makanan sudah ada sekitar sembilan tanaman obat siap menjadi fitofarmaka. Namun sampai saat baru terdapat lima jenis tanaman yang masuk kategori fitofarmaka. Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara dengan gelar negara kedua terkaya dalam keanekaragaman hayatinya (Saat ini Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat).

Mari kenalan dengan Fitofarmaka produksi Indonesia:

1. Nodiar (POM FF 031 500 361)

Komposisi:

  • Attapulgite (bahan kimia, obat untuk diare), 300 mg
  • Psidii folium ekstrak (daun jambu biji), 50 mg
  • Curcumae domesticae rhizoma ekstrak (kunyit),  7.5 mg

Khasiat: untuk pengobatan diare non spesifik

Produksi: PT. Kimia Farma

2. Rheumaneer (POM FF 032 300 351)

Komposisi:

  • Curcumae domesticae rhizoma (temulawak), 95 mg
  • Zingiberis rhizoma ekstrak (kunyit), 85 mg
  • Curcumae rhizoma ekstrak, (temulawak) 120 mg
  • Panduratae rhizoma ekstrak, (temu kunci) 75 mg
  • Retrofracti fructus ekstrak, (buah cabe jawa), 125 mg

Khasiat: pengobatan nyeri sendi ringan

Produksi : PT. Nyonya Meneer

3. Stimuno (POM FF 041 300 411, POM FF 041 600 421)

Komposisi: Phyllanthi herba ekstrak (meniran), 50 mg

Khasiat: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh (sebagai imunomodulator)

Produksi:  PT. Dexa Medica

4. Tensigard Agromed  (POM FF 031 300 031, POM FF 031 300 041)

Komposisi:

  • Apii Herba ekstrak (seledri), 95 mg
  • Orthosiphon folium ekstrak (daun kumis kucing), 28mg

Khasiat: Membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi ringan hingga sedang

Produksi: PT. Phapros

5. X-Gra (POM FF 031 300 011, POM FF 031 300 021)

Komposisi:

  • Ganoderma lucidum (jamur ganoderma), 150 mg
  • Eurycomae radix (akar pasak bumi), 50 mg
  • Panacis ginseng radix (akar ginseng), 30 mg
  • Retrofracti fructus (buah cabe jawa), 2.5 mg

Royal jelly 5 mg

Khasiat: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan stamina pria, membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

Produksi: PT. Phapros

Kelima produk fitofarmaka ini merupakan produk Indonesia yang membanggakan. Melalui berbagai penelitian, prosedur, dan biaya yang tidak sedikit akhirnya produk ini dapat secara aman dikonsumsi masyarakat sesuai dengan indikasinya. Dengan berkembangnya fitofarmaka maka akan meningkatkan kepercayaan konsumen dalam menggunakannya, jelas karena fitofarmaka adalah grade tertinggi dari produk herbal di Indonesia. Fitofarmaka juga dalam proses produksinya sudah terstandardisasi dimulai sejak budi daya melalui adanya GAP (Good Agricultural Practice).